Senin, 18 Mei 2009

5W + 1H dan Pengaplikasianya...

18 Mei 2009, Bima Aria Shiddiq

5W + 1H, Sebuah konsep…

Konsep yang menentukan keutuhan isi dari suatu cerita, pertama kali kukenal lewat sebuah buku karya Tony Masdiono.

Konsep tersebut mengatakan bahwa setiap cerita harus mempunyai unsur 5W1H, (who) Siapa yang diceritakan, (what) Apa yang Diceritakan, (how) Bagaimana cara menceritakanya, (when) Kapan terjadinya, (why) Kenapa cerita itu terjadi, (dimana) Where terjadinya. Tentu saja dengan hal-hal ini sebuah cerita akan terlihat jelas dan baik. Namun apakah kita pernah berpikir apa yang membuatnya menjadi baik?

Dulu waktu pertama kenal konsep ini, saya langsung saja menganggapnya baik, tanpa pikir panjang saya selalu menggunakanya untuk membuat cerita komik. Kini saya menyadari suatu hal. Kenapa saya tidak bertanya atas dasar apa konsep itu dibuat, padahal “Kenapa” merupakan bagian dari konsep tersebut. Jadi Saya bertanya kepada diri saya sendiri, Apa yang menyebabkan 5W 1H menjadi dasar dalam membuat cerita yang baik, Kenapa bisa demikian, darimana asalnya pemikiran tersebut.

Dengan mudahnya saya mendapat sebuah jawaban yang sebenarnya dari dulu berada di depan mata saya. Keenam unsur tersebut adalah logika dasar pemikiran kita dalam kehidupan sehari-hari.

Sebuah contoh jika kita hanya sekedar bertanya

“Who” anggaplah kita bertemu seorang sahabat disuatu tempat. Disini kita merupakan pemeran utama.

“Where” anggaplah kita secara tak sengaja melihatnya bergelantungan diatas pohon cemara.

Penglihatanlah yang mendasari kedua hal ini. Inilah yang membuat pembaca kita bisa membayangkan situasi yang sedang berlangsung. (segi Imajinasi, saat kita tak melihat pasti kita akan membayangkan)

“Why” Saat berjumpa dengan seorang teman kita biasanya bertanya “habis darimana coy”, setelah itu biasanya kita bertanya untuk apa dia berada di tempat yang sama dengan kita contohnya
“lo lagi ngapain diatas pohon”

Apa sih yang mendasari kita bertanya hal ini? Tentu saja keingin-tahuan , Keingin-tahuan itu berdasarkan pada “kebingungan”, jelas pasti kita bingung kenapa sampai bisa teman kita berada diatas pohon cemara oleh karena itu kita ada kemungkinan kita akan bertanya “lagi apa sih lo, ga ada kerjaan banget”

“How” Bagaimana caranya teman kita bisa berada di tempat itu…. Karena teman kita ini merupakan manusia, jelas saja kita akan bingung bagaimana dia naek ke pucuk pohon cemara dan otomatis bertanya “Gimana lo naek mpe atas-atas gitu sih? kek monyet aja”

“When” Kapan kejadianya? Saat kita bertemu teman kitalah jelas

“What” bisa berarti “apa yang sedang terjadi” == jelas Bertemu seorang teman
Bisa juga berarti “apa yang sedang teman kita lakukan == Gelantungan di pohon

“Where” Bisa dari sudut pandang kita dibawah pohon
Bisa juga dari sudut pandang teman kita yang sedang bergantung-gantung seperti monyet.

Hal diatas adalah kelengkapan informatif, yang lebih menjelaskan situasi didalam cerita bisa berupa emosi, kondisi tempat dll melengkapi segi imajinatif dari cerita.
(Segi Informasi, saat kita tidak mengetahui kita akan bertanya. Supaya orang ga bingung pastinya kita akan berusaha memberitahukan secara detail informasi yang ada.)

Jika saja ada kekurangan dalam menjelaskan Situasi secara imajinatif dan informatif, akan membingungkan pembaca.

Penggunaan 5W + 1H akan menghasilkan Imajinasi yang diperkuat oleh informasi, Itulah mengapa konsep ini merupakan dasar untuk membuat cerita menjadi lebih baik.

Pengaplikasian 5 W + 1H dalam bidang lain

Sekarang ini konsep ini telah dipergunakan lebih luas lagi, contohnya mentor-mentor seminar self help. Dua Seminar yang pernah saya hadiri “memperkenalkan” 5W + 1H dalam versi yang berbeda(sebetulnya saya sudah sangat kenal konsep ini), pada waktu itu konsepnya diartikan sebagai berikut. (jawaban saya ga usah dipedulikan)

Who “Siapakah Anda”
Gw bima

What “Apakah yang ingin anda lakukan di dunia/Apa Cita-cita anda”
Pelukis Ternama

Why “Kenapa anda melakukanya”
Karena saya menyukai hal tersebut dan saya merasa bisa mencapainya

Jadinya konsep ini karena pada dasarnya merupakan logika dari tindakan kita sehari-hari dalam menghadapi pelbagai hal, hanya saja kita tidak sadar. Masih banyak Contoh pengaplikasian konsep ini dalam pekerjaan lainya,

Sebagai contoh adalah, ketika wawancara kerja, pekerjaan yang berhubungan dengan jurnalistik, Matematika dan Fisika [ (What = Dit :) ( Bagaimana = Rumus : ) (Jawab: ) sisanya mendekati segi filosofis dari ilmu tersebut], tentu saja Filsafat juga yang ilmunya penuh dengan argumen.

konsep ini juga dapat membuat kita berpikir sistematis dalam banyak hal yang kita hadapi.

Semoga artikel ini berguna bagi yang membaca dan menambah wawasan

1 comments:

Madiun Info mengatakan...

Saya suka dengan konsep berpikir ini. Sukses ya Sob

Search Literatures...